Satu perbedaan yang sangat terasa ketika saya menggunakan desktop Gnome di Ubuntu jika dibandingkan ketika menggunakan Mac OS X adalah "ruang gerak" saya terasa menjadi lebih terbatas. Ruang gerak ini bisa dibayangkan seperti berapa baris kodingan yang bisa saya lihat di window berukuran satu layar penuh, berapa banyak tulisan orang yg langsung terlihat di browser tanpa harus menggulung, dan laen2.
Di Mac OS X, walau rasanya tulisan di menu besar, tombolnya besar, ada ruang kosong gara2 dock di bawah, jarak widget paling pinggir dengan tepi window rada jauh, tetap saja ruang gerak terasa luas. Pas make Gnome, entah mengapa semua terasa sempit. Mungkin font dan iconnya besar, mungkin karena jarak antara tulisan dan tepi tombol terlalu besar, atau yang lain, yang jelas rasanya sempit.
Ternyata bukan saya yg merasa demikian. Andi Belutz jg sepertinya ngoprek2 tampilan Gnome nya supaya memberikan ruang lebih luas. Saya jg pernah nemuin tulisan di blog lain yg mengungkapkan hal yg sama (maaf saya lupa linknya). Tulisan di blog tersebut memberikan beberapa cara untuk melakukan "penghematan". Setelah dicoba2 dan ditambah bumbu2 lain dari saya, akhirnya menemukan konfigurasi yang cukup memuaskan saya.
Kira2 begini caranya..
Kecilkan font! Kombinasi 8-10-10-8-10 rasanya cukup untuk saya.
Atur cara rendering font agar masih tetap enak dilihat. Saya memakai Subpixel smoothing (LCDs).
Pakai tema GTK+ yang irit tempat. Saya menggunakan Compact Murrine yang telah dimodifikasi sedikit.
Apa modifikasinya? saya cuma ngapus border di panel bawah yang berisi daftar window yg saya buka. Kalau mau, silakan gunakan tema hasil modifikasi saya ini. Saya beri nama: Irit =D
Loh kok masih pake dua panel atas bawah? Saya merasa lebih nyaman dengan konfigurasi seperti itu. Kalau Anda mau menghemat lebih banyak tempat, coba gunakan hanya satu buah panel.
Kecilkan ukuran panel sekecil-kecilnya selama masih nyaman. Toolbar atas saya berukuran 24 yang entah tidak bisa dikecilkan lagi. Sementara itu, toolbar bawah berukuran 21 yang spertinya sudah ukuran paling kecil.
Berhubung Firefox adalah salah satu aplikasi yang selalu saya pakai, saya juga perlu membuat Firefox menjadi super minimalis. Saya hapus hampir seluruh toolbar yang ada dan menyisakan 1 buah toolbar Navigas yang juga berisi hal lain =D
Toolbar lain yang sering saya pakai sebenarnya hanya dua, yaitu bookmarks dan Stumbleupon. Toolbar bookmarks sebenarnya tidak diperlukan karena saya cukup menekan tombol Ctrl+B untuk membuka tutup panel samping yang juga berisi bookmarks. Untuk toolbar Stumbleupon, walau tertulis Ctrl+F11 digunakan untuk membuka tutup, entah mengapa shortcut tersebut tidak bekerja. Oleh karena itu, saya pasangkan saja icon pembuka tutup toolbar ini dalam 1 toolbar yg tersisa (untungnya Stumbleupon menyediakannya). Kira2 hasil akhirnya seperti gambar di bawah.
Berhubung saya menghilangkan toolbar menu, saya perlu mencari cara cepat agar tetap dapat mengakses menu ini. Untung saja ada add-on Compact Menu 2 yang menjadikan menu menjadi sebuah icon yang dapat ditempel di toolbar yang ada.
Masih ada modifikasi lain yang saya lakukan atau dapat saya lakukan. Saya juga mengecilkan font di Eclipse berhubung saya kadang menggunakannya. Untuk font di Terminal dan gVim, saya tidak mengubahnya berhubung masih saya rasa cukup.
Dengan demikian, saya bisa mendapat ruang gerak yang lebih luas! Kapan2 kalau ingat akan saya tampilkan screenshot perbandingan antara desktop Mac OS X dan Gnome.






4 komentar:
whoa, compact menu! itu yang saya cari dari dulu.
Thanks
selain boros resource. gnome juga boros tempat. :D
mirip ini ya... http://martin.ankerl.com/2008/11/04/human-compact-themes-for-ubuntu-810/
Jao bisa sampek 18 piksel :D
gnome lebih boros tempat dibanding macosx ya om?
menurut saya gara2-nya adalah: desktop menu(bar) dan application menu(bar). di macosx dua item ini berada di satu tempat, sedangkan di gnome beda tempat. soal application window, gnome adopsi punya mswindows?
Poskan Komentar